Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan Rabu (8/7/2026) di tengah munculnya kombinasi sentimen positif dan negatif yang berpotensi memicu aksi ambil untung (profit taking). Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dengan level resistance 6.050, pivot 6.000, dan support 5.870.
Meski demikian, Phintraco Sekuritas masih melihat peluang cuan pada sejumlah saham pilihan, yakni HMSP, CPIN, PGEO, SMGR, dan BBNI.
Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas menjelaskan IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat 1,19% ke level 5.986,5. Penguatan tersebut terjadi meski volume dan nilai transaksi masih relatif rendah, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar.
Secara teknikal, IHSG berhasil ditutup di atas level MA20, sementara indikator MACD masih menunjukkan sinyal akumulasi atau minat beli. Namun, setelah reli dalam beberapa hari terakhir, peluang terjadinya aksi ambil untung dinilai mulai meningkat.
“Dengan demikian, IHSG hari ini berpotensi bergerak mixed pada kisaran 5.900-6.000,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (8/7/2026).
Sentimen positif datang dari beberapa faktor domestik. Salah satunya adalah usulan DPR yang memangkas kebutuhan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027. Langkah tersebut dinilai berpotensi mengurangi tekanan terhadap fiskal pemerintah.
Selain itu, kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026 turut memperkuat optimisme pasar. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa meningkat menjadi US$145,6 miliar, naik dari US$144,9 miliar pada Mei 2026. Peningkatan tersebut didorong oleh penerimaan pajak dan jasa yang mampu mengimbangi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Kondisi tersebut dinilai memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas mengingatkan masih terdapat sentimen yang dapat membatasi penguatan pasar. Pemerintah memperkirakan defisit APBN 2026 melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB, lebih tinggi dibanding target awal sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.
Meski pemerintah menargetkan penerimaan pajak tumbuh 20,5% dan tetap menjaga pertumbuhan di kisaran 23% tanpa menaikkan tarif maupun menambah jenis pajak baru, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun atau sekitar 102,6% dari pagu APBN.
“Proyeksi defisit APBN yang lebih lebar dari target tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif,” tulis Phintraco Sekuritas.
Dengan kombinasi sentimen tersebut, investor disarankan tetap selektif dalam memilih saham. Phintraco Sekuritas menilai HMSP, CPIN, PGEO, SMGR, dan BBNI layak dicermati karena dinilai memiliki peluang mencatatkan kinerja lebih baik di tengah pergerakan IHSG yang diperkirakan cenderung konsolidatif.

