Jakarta (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah mencatat rebound tajam lebih dari 7% sehari sebelumnya. Sentimen positif datang dari langkah agresif Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan serta berbagai kebijakan tambahan untuk menjaga stabilitas rupiah dan menarik kembali aliran modal asing.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada rentang support 5.600, pivot 5.700, dan resistance 5.850. Di tengah peluang penguatan tersebut, investor disarankan mencermati sejumlah saham pilihan, yakni BBNI, BBRI, INCO, BRPT, dan TINS.
Pada perdagangan Selasa (9/6/2026), IHSG ditutup menguat 7,57% ke level 5.746,65 setelah sebelumnya mengalami tekanan hebat dalam beberapa pekan terakhir. Seluruh sektor mencatatkan kenaikan, dengan sektor barang baku memimpin penguatan sebesar 9,97%.
Menurut Phintraco Sekuritas, penguatan pasar dipicu oleh respons positif pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia yang secara mengejutkan menggelar rapat di luar jadwal dan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.
“Langkah tersebut diapresiasi positif pasar, tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah sebesar 0,65% ke level Rp18.065 per dolar AS,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (10/6/2026).
Dari sisi teknikal, IHSG menunjukkan sinyal pemulihan yang cukup kuat. Setelah sempat ditutup di bawah rata-rata pergerakan jangka panjang (MA200 monthly), indeks berhasil kembali ditutup di atas level tersebut.
Selain itu, secara harian IHSG juga berhasil menembus MA5 dan menutup gap yang terbentuk pada perdagangan sebelumnya. Indikator Stochastic RSI bahkan membentuk pola golden cross di area oversold yang umumnya menjadi sinyal awal penguatan lanjutan.
Strategi BI Redam Tekanan Rupiah
Phintraco menilai keputusan BI menaikkan suku bunga merupakan bagian dari upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah tingginya ketidakpastian global.
Selain menaikkan BI Rate, bank sentral juga meningkatkan suku bunga instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan.
BI turut memberikan insentif berupa penurunan biaya hedging swap bagi investor asing sebesar 10%. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat investor global untuk kembali menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia.
Tak hanya itu, BI membuka kembali lelang instrumen repo untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi sektor perbankan serta meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing guna memperkuat stabilisasi pasar.
“Stabilisasi nilai tukar rupiah dilakukan agar ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga dan target inflasi tahun 2026 dan 2027 dapat tercapai,” tulis Phintraco.
Buyback Bank BUMN Jadi Perhatian Pasar
Di sisi lain, sentimen positif juga datang dari langkah DPR yang telah melakukan koordinasi dengan sejumlah institusi strategis, termasuk Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, PT Taspen (Persero), dan bank-bank Himbara untuk merespons gejolak pasar modal.
Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah rencana buyback saham perbankan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menjadi penopang pergerakan saham sektor perbankan yang selama ini menjadi kontributor utama IHSG.
Dengan kombinasi sentimen positif dari kebijakan moneter dan potensi dukungan institusi domestik, Phintraco Sekuritas menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka dalam jangka pendek meskipun volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi.

