Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (27/3/2026), seiring meningkatnya tekanan dari sentimen global dan aksi jual investor asing. Kombinasi ketidakpastian geopolitik dan pergeseran preferensi investor terhadap aset yang lebih aman menjadi faktor utama yang membebani pasar.
Menurut CGS International Sekuritas Indonesia, pelemahan IHSG dipicu oleh turunnya mayoritas indeks utama di Wall Street serta aksi net sell asing dalam jumlah besar pada perdagangan sebelumnya. “IHSG hari ini diprediksi bergerak melanjutkan pelemahannya pada kisaran support 7.080-7.000 dan resist 7.245-7.323,” tulis CGS dalam risetnya.
Tekanan dari pasar global terlihat jelas setelah bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup di zona merah pada Kamis (26/3/2026) waktu setempat. Indeks Nasdaq bahkan anjlok lebih dari 2% dan resmi masuk fase koreksi, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko global.
Kenaikan tajam harga minyak dunia turut memperburuk sentimen pasar. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Harga minyak mentah AS tercatat naik 4,6%, sementara Brent melonjak 5,7%, memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi.
Ketidakpastian semakin meningkat setelah Donald Trump menyatakan bahwa Iran harus segera mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat atau berisiko menghadapi serangan lanjutan. Pernyataan tersebut mempertegas tensi geopolitik yang masih tinggi dan berdampak langsung pada sentimen pasar keuangan global.
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan 2 tahun turut menekan minat investor terhadap aset berisiko seperti saham. Kondisi ini mendorong aliran dana keluar dari pasar saham, termasuk dari emerging markets seperti Indonesia.
Meski demikian, data ekonomi AS menunjukkan klaim pengangguran mingguan naik tipis sesuai ekspektasi, menandakan pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Hal ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga sambil mencermati dampak konflik terhadap perekonomian.
Dalam situasi pasar yang masih penuh tekanan, pelaku pasar disarankan untuk lebih selektif dan defensif dalam bertransaksi. CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati untuk trading jangka pendek, antara lain MEDC, ELSA, MYOR, SSIA, ESSA, dan AADI.

