Teheran (Tutur.co.id) – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengklaim berhasil menyerang jet tempur canggih milik Amerika Serikat, yakni F-35, dalam sebuah operasi militer terbaru. Klaim tersebut disampaikan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan dilaporkan sejumlah media internasional, termasuk CNN.
IRGC menyebut jet siluman tersebut terkena sistem pertahanan udara saat menjalankan misi tempur di wilayah udara Iran. Dalam pernyataannya, IRGC mengungkapkan pesawat itu “berhasil dihantam dan mengalami kerusakan serius” sekitar pukul 02.50 waktu setempat.
Mereka bahkan menyebut ada kemungkinan pesawat tersebut jatuh, meski belum ada konfirmasi lebih lanjut terkait kondisi akhirnya. Media Iran juga menyebarkan video yang diklaim memperlihatkan momen serangan, menampilkan ledakan di udara, jejak asap, serta pesawat yang keluar dari jalur penerbangan.
Namun, pihak militer Amerika Serikat memberikan versi berbeda. Melalui United States Central Command, mereka membenarkan adanya insiden yang melibatkan pesawat tersebut, tetapi membantah klaim kerusakan fatal.
Juru bicara militer AS, Tim Hawkins, menyatakan bahwa pesawat tersebut berhasil melakukan pendaratan darurat dan pilot dalam kondisi selamat. Hingga kini, pemerintah AS belum mengeluarkan pernyataan resmi yang lebih rinci terkait klaim serangan tersebut.
“Pesawat mendarat dengan aman dan pilot dalam kondisi stabil. Insiden ini masih dalam penyelidikan,” ujarnya.
Di sisi lain, Pentagon menegaskan bahwa operasi militer AS di kawasan tetap berjalan sesuai rencana. Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menyatakan sistem pertahanan udara Iran telah “dilumpuhkan”, klaim yang bertolak belakang dengan pernyataan IRGC.
Apabila klaim Iran terbukti benar, insiden ini akan menjadi yang pertama kalinya jet tempur F-35 Lightning II, salah satu pesawat militer paling canggih dan bernilai lebih dari 100 juta dolar AS berhasil ditargetkan oleh sistem pertahanan Iran.
Sementara itu, eskalasi konflik tidak hanya terjadi di sektor militer, tetapi juga mulai merambah infrastruktur energi di kawasan Teluk. Sejumlah negara seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait dilaporkan mengalami serangan terhadap fasilitas minyak dan gas.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengisyaratkan kemungkinan eskalasi lebih lanjut. Ia menyebut respons Iran sejauh ini baru menggunakan sebagian kecil kekuatan militer.
“Jika infrastruktur kami kembali diserang, tidak akan ada lagi penahanan diri,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan serangan Israel dipicu oleh kemarahan, sekaligus mengindikasikan adanya upaya untuk mencegah eskalasi lebih lanjut terhadap fasilitas energi strategis. Situasi yang terus memanas ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas keamanan kawasan serta dampaknya terhadap pasokan energi dunia.

