Jakarta (tutur.co.id) — Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia semakin dalam pada awal pekan ini. Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menembus level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok lebih dari 3% dan turun ke level 5.400-an.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (8/6/2026), dolar AS menguat 0,44% ke level Rp18.114,5 pada awal perdagangan. Tak lama kemudian, mata uang AS tersebut kembali menguat ke posisi Rp18.132 atau naik 0,53% pada pukul 09.11 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya dolar AS berada di level Rp18.036. Sepanjang tahun berjalan 2026, mata uang AS tercatat telah menguat sekitar 8,6% terhadap rupiah.
Di saat yang sama, pasar saham domestik juga mengalami tekanan besar. Berdasarkan data RTI, IHSG pada pukul 09.05 WIB dibuka melemah 182,44 poin atau 3,26% ke level 5.412,32. Indeks bergerak di rentang 5.370,32 hingga 5.490,11 pada awal perdagangan.
Nilai transaksi pagi mencapai Rp1,92 triliun dengan volume perdagangan 2,78 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 55 saham yang menguat, sementara 536 saham melemah dan 109 saham bergerak stagnan.
Tekanan juga melanda saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun sekitar 4% ke level Rp4.800. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 2,60%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 3,43%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 2,55%.
Kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan pasar saham domestik. Secara bulanan, IHSG telah turun sekitar 22,35%. Dalam tiga bulan terakhir indeks terkoreksi 24,57%, sedangkan dalam enam bulan terakhir pelemahannya mencapai 35,29%.
Tekanan simultan terhadap rupiah dan pasar saham mencerminkan masih tingginya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi domestik, terutama di tengah derasnya arus keluar dana asing, volatilitas pasar global, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan yang memengaruhi sentimen pelaku pasar.

