Jakarta (tutur.co.id) – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan terhadap pasar surat utang negara (SUN). Menjelang lelang SUN pada 9 Juni 2026, investor asing dinilai semakin berhati-hati menempatkan dana di pasar obligasi Indonesia seiring meningkatnya risiko nilai tukar dan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan pelemahan rupiah menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan investasi, terutama bagi investor global yang menghitung imbal hasil dalam denominasi dolar AS.
“Setelah rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di atas Rp18.000 per dolar AS, minat investor terhadap SUN menjadi semakin tersegmentasi. Investor domestik relatif tetap aktif karena kewajiban mereka juga berdenominasi rupiah. Sebaliknya, investor asing menjadi jauh lebih selektif karena pelemahan kurs langsung mengurangi imbal hasil dalam dolar AS,” ujar Yusuf, Minggu (7/6/2026).
Menurut dia, tekanan tersebut tercermin dari kenaikan yield SUN tenor 10 tahun yang kini berada di kisaran 6,9%. Kenaikan yield menunjukkan pasar meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi di tengah tekanan rupiah, potensi inflasi impor, dan meningkatnya kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing.
Meski spread imbal hasil SUN terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) masih tergolong menarik, investor asing tidak hanya mempertimbangkan selisih yield. Mereka juga memperhitungkan risiko depresiasi rupiah, biaya lindung nilai (hedging), arah suku bunga global, hingga persepsi terhadap kondisi fiskal Indonesia.
“Karena itu, yield yang lebih tinggi belum tentu cukup untuk menarik kembali minat investor asing,” katanya.
Yusuf menambahkan, tren penurunan minat investor asing juga tercermin dari struktur kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN). Saat ini, porsi kepemilikan asing berada di kisaran 12,6%, level terendah dalam hampir dua dekade.
Sebaliknya, pasar obligasi domestik semakin ditopang oleh investor dalam negeri. Bank Indonesia terus meningkatkan kepemilikan SBN, sementara institusi domestik seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan manajer investasi memperbesar porsi investasi mereka pada surat utang pemerintah.
Kondisi tersebut membuat risiko kegagalan lelang relatif rendah meskipun partisipasi investor asing terus menurun. Likuiditas domestik yang masih memadai dan peran Bank Indonesia sebagai penyangga pasar menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas pasar obligasi.
Yusuf memperkirakan permintaan pada lelang SUN pekan ini akan lebih banyak mengalir ke seri benchmark dan tenor pendek yang memiliki likuiditas tinggi. Di tengah volatilitas rupiah dan ketidakpastian arah suku bunga global, investor cenderung mengurangi eksposur pada instrumen berdurasi panjang.
“Tenor panjang masih akan mendapat permintaan, tetapi lebih selektif dan terutama berasal dari investor jangka panjang yang memang membutuhkan aset berdurasi panjang,” jelasnya.
Meski demikian, peluang pemerintah mencapai target penerbitan SUN tetap terbuka lebar. Beberapa lelang sebelumnya menunjukkan nilai penawaran yang masuk masih jauh di atas target yang ditetapkan pemerintah.
Yusuf memperkirakan rasio bid-to-cover tetap berada pada level sehat. Namun, untuk menarik minat investor di tengah kondisi pasar yang menantang, pemerintah kemungkinan harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
“Bid-to-cover ratio kemungkinan tetap sehat. Namun keberhasilan tersebut kemungkinan harus dibayar dengan yield yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya,” pungkas Yusuf.
Kondisi ini menunjukkan pasar obligasi Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat berkat dukungan likuiditas domestik. Namun, selama tekanan terhadap rupiah dan persepsi risiko terhadap Indonesia belum mereda, investor asing diperkirakan akan tetap bersikap selektif terhadap aset-aset berdenominasi rupiah.

