Jakarta (tutur.co.id) – Pemerintah memutuskan untuk mengimpor 250 ribu ton kedelai dengan subsidi Rp2.000 per kilogram guna menjaga stabilitas harga bahan baku UMKM tempe dan tahu. Keputusan ini diambil dalam Rapat Koordinasi Pangan di Jakarta, Selasa 9 Juni 2026.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan impor ini penting agar UMKM tidak kolaps di tengah fluktuasi harga global dan musim kemarau.
“Bapak Presiden menginstruksikan agar kebutuhan sembako rakyat diperhatikan secara serius. Harga sembako tidak boleh memberatkan rakyat dalam situasi apa pun. Negara harus hadir memastikan pasokan tersedia dan harga tetap terjangkau,” kata Zulhas dalam keterangan persnya.
Subsidi kedelai ini ditujukan untuk pelaku UMKM tempe dan tahu yang selama ini sangat rentan terhadap lonjakan harga bahan baku. Mekanisme pemberian subsidi akan diatur lebih lanjut bersama kementerian terkait dan Perum Bulog.
Selain impor kedelai, pemerintah juga memutuskan menambah program bantuan pangan beras selama tiga bulan mulai Juli 2026. Sebanyak 33,24 juta penerima akan mendapat 10 kilogram beras per bulan. Program ini menyerap 1 juta ton cadangan beras sebagai bantalan sosial menghadapi musim kemarau.
“Indonesia memasuki musim kemarau. Harga sembako tidak boleh naik dan rakyat tidak boleh disulitkan karena gejolak harga. Karena itu pemerintah menambah bantuan pangan agar masyarakat yang paling rentan tetap terlindungi,” ujar Menko Pangan.
Pemerintah juga memutuskan distribusi Minyakita diprioritaskan untuk pasar rakyat dan tradisional. Bantuan sosial tidak boleh lagi menggunakan alokasi Minyakita agar pasokan di pasar tetap terjaga.
Berdasarkan laporan kementerian terkait, stok pangan nasional dalam kondisi cukup. Harga ayam ras dan telur masih di bawah Harga Acuan Penjualan, meski cabai rawit naik karena faktor musim. Pemerintah menegaskan stabilitas pangan menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global.

