Dallas (Tutur.co.id) – Kylian Mbappe melontarkan kritik tajam terhadap penampilan Timnas Prancis setelah kalah 0-2 dari Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026, Rabu (15/7/2026). Menurut kapten Les Bleus itu, timnya gagal menjalankan rencana permainan sehingga tidak mampu memberikan ancaman berarti kepada sang juara Eropa.
Sebelum pertandingan berlangsung, Prancis lebih banyak dijagokan untuk melaju ke final meski Spanyol datang dengan modal luar biasa, yakni rekor tak terkalahkan dalam 36 pertandingan. Namun, yang terjadi di lapangan justru sebaliknya.
Skuad asuhan Didier Deschamps tampil kesulitan sepanjang laga dan harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor 0-2. Dua gol kemenangan La Roja dicetak oleh Mikel Oyarzabal melalui tendangan penalti serta Pedro. Statistik juga menunjukkan betapa minimnya ancaman Prancis, yang hanya membukukan expected goals (xG) sebesar 0,3 sepanjang pertandingan.
Kekalahan tersebut membuat Prancis gagal melangkah ke final dan kini harus menjalani perebutan tempat ketiga menghadapi pemenang laga Inggris kontra Argentina di Miami.
Mbappe Soroti Taktik Prancis
Usai pertandingan, Mbappe mengungkapkan bahwa Prancis tidak mampu menjalankan strategi yang telah disiapkan untuk menghentikan permainan Spanyol. Menurut penyerang Real Madrid itu, lini tengah Prancis kalah jumlah sehingga Fabian Ruiz dan Rodri leluasa mengendalikan tempo permainan.
“Kami kalah jumlah tiga lawan dua di lini tengah, dan menghadapi Spanyol situasi seperti itu sangat sulit. Fabian Ruiz dan Rodri memiliki banyak waktu untuk memainkan bola,” ungkap Mbappe.
Mbappe juga menilai koordinasi saat melakukan tekanan tinggi tidak berjalan dengan baik. Padahal, menurutnya, Prancis seharusnya menerapkan pressing satu lawan satu agar para pemain Spanyol dipaksa bermain lebih cepat dan kehilangan ritme.
“Kurang ada komunikasi saat melakukan pressing. Saya pikir kami seharusnya melakukan pressing man-to-man dan memaksa mereka berlari bersama kami,” tandasnya.
Gagal Menjalankan Rencana Permainan
Mbappe menegaskan bahwa kegagalan menerapkan strategi menjadi penyebab utama tersingkirnya Prancis di semifinal.
Ia mengakui Spanyol tampil disiplin menjalankan identitas permainan mereka, yakni menguasai bola dan mengontrol tempo pertandingan. Sebaliknya, Prancis gagal merebut kendali permainan sesuai rencana.
“Spanyol menjalankan rencana permainan mereka dengan sangat baik. Mereka suka menguasai bola dan mengendalikan tempo pertandingan. Rencana kami adalah menekan mereka sejak awal agar mereka tidak bisa memainkan ritmenya karena mereka memang lebih baik dalam mengontrol pertandingan,” katanya.
Selain itu, Mbappe juga menyoroti buruknya kualitas teknik timnya ketika berhasil merebut bola dari penguasaan Spanyol.
“Kami tidak berhasil melakukannya. Kami terlalu ceroboh secara teknik. Bahkan ketika berhasil merebut bola, sentuhan pertama kami tidak cukup baik. Dengan performa seperti itu, hasilnya adalah kekalahan.”
Meski kecewa berat, Mbappe mengakui Spanyol memang tampil lebih baik dan pantas lolos ke partai puncak.
“Ini sangat mengecewakan. Tetapi jika kami objektif, kami memang tidak memberikan semua yang dibutuhkan untuk bisa mencapai final.”
Mbappe Berpeluang Tetap Tampil di Perebutan Tempat Ketiga
Meski Prancis gagal mencapai final, Mbappe diperkirakan tetap tampil dalam laga perebutan tempat ketiga. Penyerang berusia 27 tahun itu masih memiliki peluang besar meraih Sepatu Emas Piala Dunia 2026.
Saat ini, Mbappe mengoleksi delapan gol, jumlah yang sama dengan kapten Argentina, Lionel Messi, dalam daftar pencetak gol terbanyak turnamen.
Apabila dimainkan pada laga perebutan tempat ketiga, Mbappe berpeluang menambah koleksi golnya dan mempertahankan status sebagai top skor Piala Dunia untuk dua edisi secara beruntun.

