Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan berat pada perdagangan Selasa (9/6/2026) setelah kembali mengalami koreksi tajam pada awal pekan. Pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta belum pulihnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik menjadi kombinasi sentimen negatif yang membayangi pergerakan indeks.
Pada perdagangan Senin (8/6/2026), IHSG ditutup merosot 4,52% atau 252 poin ke level 5.342,1. Seluruh sektor saham berakhir di zona merah dengan sektor industri memimpin pelemahan setelah anjlok 6,39%.
Tekanan terhadap pasar domestik tidak hanya berasal dari faktor internal, tetapi juga dipengaruhi perkembangan global yang semakin tidak menentu. Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang selama ini relatif rapuh.
Eskalasi konflik tersebut langsung berdampak pada harga energi global. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Senin, memicu kekhawatiran baru mengenai potensi kenaikan inflasi global dan risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia yang masih sensitif terhadap pergerakan harga energi.
Sentimen negatif juga tercermin di pasar regional. Mayoritas bursa saham Asia ditutup melemah seiring meningkatnya aversi risiko investor akibat ketegangan geopolitik dan koreksi saham-saham teknologi global.
Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,84% ke level Rp18.188 per dolar Amerika Serikat, memperpanjang tren depresiasi yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar.
Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG secara teknikal masih berpotensi berlanjut. Penutupan indeks di bawah level rata-rata pergerakan jangka panjang atau MA200 bulanan menjadi sinyal bahwa tren bearish masih mendominasi pasar.
“Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA200 monthly, sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya diperkirakan IHSG berpotensi akan menguji level 5.100,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Pandangan serupa disampaikan MNC Sekuritas. Broker tersebut memperkirakan area 5.184 hingga 5.282 menjadi zona koreksi berikutnya yang perlu dicermati investor apabila tekanan jual masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Di tengah tingginya volatilitas pasar, MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk trading jangka pendek, yakni ASII, BULL, JPFA, dan NICL.
Sementara itu, Direktur Utama RHB Sekuritas Thomas Nugroho menilai koreksi tajam yang terjadi di pasar saham Indonesia dipicu oleh kombinasi beberapa faktor sekaligus, mulai dari pelemahan rupiah, meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, hingga berlanjutnya aksi jual investor asing.
Menurut Thomas, level support penting saat ini berada di kisaran 5.000 hingga 5.100. Jika area tersebut gagal dipertahankan, maka risiko penurunan lebih lanjut masih terbuka. Meski demikian, ia menilai level psikologis 5.000 masih berpotensi menjadi area pertahanan kuat selama tidak muncul sentimen negatif baru yang lebih besar.
“Namun selama tidak muncul sentimen negatif baru yang signifikan, level psikologis IHSG sekitar 5.000 diperkirakan akan tetap terjaga,” ujarnya.

