Jakarta (tutur.co.id) — – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Senin (8/6/2026) seiring memburuknya sentimen global dan berlanjutnya aksi jual investor asing di pasar saham domestik.
CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan tren pelemahan dengan area support pada level 5.450 hingga 5.305, sedangkan area resistance berada di kisaran 5.740 hingga 5.885.
“IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan kisaran support 5.450-5.305 dan resist 5.740-5.885,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam riset harian, Senin (8/6/2026).
Sentimen negatif datang dari koreksi tajam yang terjadi di bursa saham Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Indeks Nasdaq mencatat pelemahan harian terdalam sejak April tahun lalu setelah investor melakukan aksi jual pada saham-saham produsen chip dan sektor teknologi.
Tekanan tersebut dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih kuat dari ekspektasi pasar. Data Biro Statistik Ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan tenaga kerja nonfarm payroll mencapai 172.000 pada Mei 2026, jauh melampaui proyeksi ekonom yang hanya sekitar 80.000 pekerjaan.
Data ketenagakerjaan yang solid memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve belum memiliki urgensi untuk segera menurunkan suku bunga acuan. Di tengah inflasi yang masih relatif tinggi, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini untuk menjaga stabilitas harga.
Prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama berpotensi mendorong aliran dana global kembali ke aset-aset dolar AS dan menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain sentimen eksternal, pasar domestik juga masih dibayangi keluarnya dana asing dalam jumlah besar. Arus modal asing yang terus mencatatkan net sell menambah tekanan terhadap IHSG yang sebelumnya sudah terkoreksi cukup dalam.
Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk trading jangka pendek, yaitu PT Timah Tbk. (TINS), PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY), PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI).
Sementara itu, Technical Analyst Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Axmal Fauza, melihat peluang menarik pada saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA). Saham emiten tambang tersebut direkomendasikan buy dengan target harga pertama di level Rp2.740 dan target harga kedua Rp2.850.
Untuk strategi akumulasi, MDKA direkomendasikan pada area entry Rp2.480 hingga Rp2.430 dengan batas risiko (stop loss) di level Rp2.310.
Sebaliknya, Korea Investment merekomendasikan investor untuk melakukan aksi jual pada saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA). Saham tersebut memiliki area support di level 580 dan 540, sementara resistance berada di kisaran 755 hingga 835.
Dengan kombinasi sentimen negatif dari pasar global, ekspektasi suku bunga tinggi AS, dan berlanjutnya arus keluar dana asing, pelaku pasar disarankan tetap mengedepankan manajemen risiko serta mencermati level support krusial IHSG sebelum melakukan akumulasi secara agresif.

