Jakarta (tutur.co.id) – Tekanan yang melanda pasar keuangan Indonesia dinilai mencerminkan proses repricing atau penyesuaian ulang risiko Indonesia di mata investor global. Pelemahan nilai tukar rupiah, koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta derasnya arus keluar dana asing menjadi sinyal meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset domestik.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan investor saat ini menuntut premi risiko yang lebih tinggi sebelum kembali meningkatkan eksposur ke pasar Indonesia.
“Ketika rupiah terus melemah, IHSG terkoreksi lebih dari 36% dari puncaknya, dan arus dana asing masih mencatatkan net sell yang besar, pasar pada dasarnya sedang menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia,” ujar Hendra, Minggu (7/6/2026).
Menurut dia, investor global tidak hanya mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai tingkat risiko yang melekat pada suatu negara. Faktor-faktor seperti kepastian kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar kini menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Hendra menilai faktor domestik semakin dominan memengaruhi pergerakan pasar Indonesia. Di tengah tekanan global berupa suku bunga tinggi di Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik, investor cenderung lebih selektif dalam memilih negara tujuan investasi.
“Investor mulai membandingkan negara-negara emerging market dan memilih pasar yang menawarkan kepastian kebijakan lebih baik, risiko fiskal lebih rendah, serta arah pembangunan yang lebih mudah diprediksi,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah isu yang berkembang belakangan, mulai dari outlook peringkat kredit, kebijakan fiskal, Danantara, hingga perubahan regulasi, pada akhirnya bermuara pada satu persoalan utama, yakni kredibilitas dan konsistensi kebijakan.
Menurut Hendra, pasar akan memberikan respons negatif ketika muncul ketidakjelasan mengenai implikasi fiskal jangka panjang maupun tata kelola kebijakan strategis pemerintah.
Meski demikian, ia menegaskan fenomena yang belakangan disebut sebagai “Sell Indonesia” tidak berarti fundamental ekonomi nasional mengalami kemunduran.
“Ini bukan berarti fundamental ekonomi Indonesia runtuh. Pertumbuhan ekonomi masih relatif positif, sektor perbankan tetap sehat, tingkat utang pemerintah masih lebih rendah dibandingkan banyak negara lain, dan mayoritas perusahaan tercatat masih membukukan laba,” ungkapnya.
Untuk memulihkan kepercayaan investor, pemerintah dinilai perlu memperkuat kredibilitas kebijakan ekonomi melalui disiplin fiskal, kepastian regulasi, stabilitas nilai tukar, serta peningkatan transparansi dan tata kelola program-program strategis nasional.
Di sisi lain, tekanan pasar diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan Senin (8/6/2026). BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG masih berada dalam tren bearish dengan volatilitas tinggi setelah pekan lalu ditutup melemah 4,2% ke level 5.594 disertai net sell asing sebesar Rp3,72 triliun di pasar reguler.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan pasar dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan rupiah, implikasi revisi UU P2SK terhadap persepsi independensi regulator keuangan, serta perkembangan penilaian peringkat kredit Indonesia.
Secara teknikal, area 5.555–5.480 menjadi level support krusial, sementara rentang 5.700–5.800 menjadi area resistance terdekat yang perlu dicermati pelaku pasar.
Broker tersebut juga menilai pelaku pasar akan fokus pada rilis data cadangan devisa dan pergerakan rupiah sebagai katalis utama yang menentukan arah IHSG dalam jangka pendek.
Untuk perdagangan hari ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham DAAZ dan PSAB sebagai pilihan trading jangka pendek di tengah tingginya volatilitas pasar.

